Sekjen Forum Silaturahmi Keraton Nusantara Kunjungi Situs Lamuri

Lamreh/AcehBesar
Naniek Widayanti didampingi Teuku Rizasyah Mahmudi, salah seorang pengurus FSKN Aceh

 

BANDA ACEH – Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) Naniek Widayati mengunjungi sejumlah situs tinggalan sejarah Kerajaan Islam Lamuri di Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, Senin (11/11/2013) sekitar pukul 14.00 WIB.

Dalam kunjungan tersebut, Naniek Widayanti didampingi Teuku Rizasyah Mahmudi, salah seorang pengurus FSKN Aceh dan Mizuar Mahdi, Sekjen LSM Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) yang sudah akrab dengan beberapa  lokasi situs tinggalan Lamuri.

“Agenda kunjungan pertama adalah situs Benteng Inong Balee yang berada di Gampong  Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya. Selama dalam perjalanan dari Banda Aceh menuju lokasi situs, Naniek Widayati  atau Ibu Nani sangat kagum dengan keindahan panorama laut yang terlihat hampir sepanjang perjalanan,” ujar Mizuar kepada Misykah.com

Setiba di lokasi, Ibu Nani bersama tim langsung meninjau situs Benteng Inong Balee yang diperkirakan sebagai tameng pertahanan pada masa lalu. Kemudian mereka menuju ke sebuah kompleks makam tinggalan dari Kerajaan Islam Lamuri, tidak jauh dari lokasi benteng tersebut.

Ciri khas nisan tersebut bentuknya seperti lingga dan relief ukiran yang berbeda dengan nisan era Aceh Darussalam serta nisan Samudra Pasai. Sebagian para ahli sejarah menamakan nisan itu dengan “nisan plak-pleing”. Di sini, kata Mizuar, Ibu Nani sangat terkejut saat melihat kondisi nisan yang tebengkalai.

Ia lantas menanyakan tentang wacana pemerintah ke depan terhadap pemugaran situs-situs itu. Mizuar menjelaskan akan ada penelitian dan pendataan yang akan dilakukan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh Besar bersama beberapa LSM terkait pada pertengahan bulan ini.

Selanjutnya tim mengunjungi sebuah kompleks makam berjarak sekitar 1 kilometer dari Benteng Inong Balee. Lokasi situs tersebut berada dalam kebun warga, kondisi nisan sebagian sudah tercabut.

Hasil bacaan inskripsi pada salah satu nisan tersebut oleh Abu Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah dan kebudayaan Islam bersama tim Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) pada tahun 2012, memuat informasi tentang nama pemilik makam, yaitu Maulana Qadhi Shadrul Islam Ismail.

Sekjen FSKN bersama rombongan juga mengunjungi situs Benteng Indrapatra di Gampong Ladong, Mesjid Raya. Di sini, kata Mizuar, Ibu Nani kurang setuju dengan penyebutan “benteng” untuk penamaan bangunan pada situs tersebut. Menurut dia, lokasi ini adalah “Taman Sultan”. Di pulau Jawa juga ada bangunan yang hampir serupa yaitu di seputaran Keraton Solo. Orang di sana menyebutnya “Taman Sultan”.

“Ibu Nani mengatakan akan datang lagi untuk mengunjungi seluruh situs tinggalan Kerajaan Islam Lamuri di Kecamatan Mesjid Raya yang belum sempat dikunjunginya kali ini. Beliau berharap pemerintah mengambil inisiatif cepat untuk menyelamatkan situs yang belum terjaga,” ujar Mizuar. (SP)