Sosok Panglima Perang yang Ditakuti Musuh pada Zaman Samudra Pasai

raja kanayan
Tim CISAH foto bersama di komplek pemakaman Raja Kanayan (foto:Dok CISAH)

Lhokseumawe – Tim Central information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) meyakini bahwa salah satu panglima perang yang sangat ditakuti oleh musuh pada zaman samudra pasai abad ke 15 M, adalah Raja Kanayan. Hal itu diyakinkan berdasarkan keterangan inskripsi batu nisan. “Hadzal qabru al-abban al-hasib asy-syuja’ al-mannan (Ini adalah kubur orang penyergap (musuh), yang berasal dari keturunan terhormat, pemberani lagi pengasih)”.

“kata-kata Asy-Syuja’ yang berarti pemberani. Sejauh penyelidikan tim sementara ini, hanya ditemukan pada nisan makam tersebut. Dari sinilah, dugaan itu semakin kuat bahwa kata-kata itu merupakan pujian khusus atas keberanian dan kepahlawanan seorang pembesar Samudra Pasai pada waktu itu dalam jihad fi sabilillah, ujar taqiyuddin Muhammad.

Sebuah makam panglima perang pada masa Samudra Pasai bergelar Raja Kanayan. Makam itu berada dalam komplek makam kuno Gampoeng Ujoung Kec. Samudera, Aceh Utara.
Hal-ihwal lain yang mendukung inteprentasi ini ialah sebuah legenda pertempuran yang dikisahkan dalam hikayat atau sejarah Melayu edisi yang diusungkan oleh W. G. Shellabear. “Dalam karya sastra sejarah tersebut, pada kisah XIX (hal: 112-4), diceritakan bahwa seorang pangeran dari Mengkasar (Bugis) bernama Semerluki telah diusir ayahnya sebab terpikat kepada ibu tirinya,” lanjut taqiyuddin

Dikisahkan, sebelum Semerluki pergi merompak ke Ujung Tanah (Melaka), ia telah membumihanguskan seluruh tanah jajahan di Jawa. Di Melaka dia bertarung dengan Laksamana (Melaka). Peperangan sengit itu kemudian dimenangkan Melaka, tapi pasukan Laksamana banyak yang tewas terkena sumpit beracun.

Semerluki kemudian beralih menyerang Pasai. Mendengar itu, Raja Pasai memerintahkan Raja Kanayan untuk mengusir Semerluki. Sebuah pertempuran sengit di laut pun terjadi. Semerluki akhirnya berhasil dikalahkan oleh Raja Kanayan. Ia terpaksa hengkang dari Samudra Pasai, dan mengakui keberanian dan kepahlawanan Raja Kanayan. Berani Raja Kanayan ini dari Laksamana, kata Semerluki mengakui kegagahan Raja Kanayan.

Dari legenda yang direkam dalam Hikayat Melayu itu dapat diketahui bahwa Raja Kanayan adalah seorang panglima perang laut yang terkenal lihai serta gagah berani di masanya. Sekalipun riwayat hidupnya belum banyak orang tahu tetapi saya memperkirakan dia tak kalah hebatnya dengan Khairuddin Barbarus (1470-1547), panglima laut (laksamana) Turki ‘Utsmani yang hidup sesudahnya.

Raja Kanayan wafat pada malam Sabtu 3 Sya’ban 872 H atau 1468 M. Dengan demikian, dia telah hidup pada masa pemerintahan beberapa sultan Samudra Pasai dan meninggal dunia pada masa Sultan Zainal ‘Abidin bin Ahmad bin Zainal ‘Abidin (W. 878/1474 M) menggantikan pamannya Sultan Mahmud bin Zainal ‘Abidin yang wafat pada 23 Jumadal Akhir 872 hijriah (1468), yakni beberapa bulan sebelum Raja Kanayan wafat.

Kedua nisan makamnya dihiasi kaligrafi indah ayat-ayat Al-Qur’an dan syair-syair peringatan untuk menjadi pelajaran bagi mereka yang hidup. Sedangkan pada bagian puncak nisan sebelah kaki (selatan) terukir sebaris doa: Ighfirillahumma warham li shahibi hadzal qabr (Ya Allah, ampuni dan rahmatilah pemilik kubur ini!). Ukiran kalimat yang amat jelas terlihat, ini seolah-olah ingin mengingatkan setiap peziarah untuk membacakan doa tersebut kepada jasad yang ada dalam makam.

Sumber : waspada.co.id