Ini Dia Slogan Dinasti Utsmaniyyah Turki pada Koin Emas di Situs Gampong Pande

 

Slogan Dinasti Utsmaniyyah-Turki pada koin emas ditemukan di Gampong Pande, Banda Aceh. (Sumber foto: www.kompas.com)
Slogan Dinasti Utsmaniyyah-Turki pada koin emas ditemukan di Gampong Pande, Banda Aceh. (Sumber foto: www.kompas.com)

BANDA ACEH – Salah satu koin yang ditemukan bersama koin-koin emas Aceh (lazim disebut dirham) di Gampong Pande, Banda Aceh pada Senin 11 November 2013, memberi petunjuk tentang slogan yang dipakai para sultan dari Dinasti Utsmaniyyah.

“Koin yang gambarnya dipublikasikan oleh kompas.com, setelah saya teliti ternyata terdapat tulisan yang bunyinya: ‘Dharib an-nadhr shahib al-‘izzi wa an-nashr fi al-barri wa al-bahri’. Terjemahannya, ‘Pencetak uang emas ini, pemilik kekuatan dan kemenangan di darat dan di laut’,” ujar Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah kebudayaan Islam kepada Misykah.com, Kamis malam (14/11/2013).

Taqiyuddin menyebutkan, ungkapan sebagaimana terdapat pada koin tersebut merupakan slogan yang dipakai oleh sultan-sultan dari Dinasti Utsmaniyyah (Ottoman Turki) sejak Sultan Salim I (wafat 926 H/1520 M) yang mulai membubuhkan gelarnya dengan “syah” pada mata uang. Begitu pula putranya, Sultan Sulaiman Al-Qanuniy (974 H/1566 M).

“Ungkapan tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan finansial mereka serta kehebatan dalam memenangkan berbagai pertempuran di darat dan di laut yang pada gilirannya menegaskan kemampuan militer Dinasti Utsmaniyyah,” kata Taqiyuddin Muhammad.

Selain itu, ungkapan ‘uzza nashruh pada koin Dinasti Utsmaniyyah seperti diberitakan Misykah.com sebelumnya, juga untuk mengabadikan kemenangan-kemenangan Sultan Salim I dalam menaklukkan Dinasti Shafawiyyah yang menganut paham Syi’ah dan Dinasti Mameluk Mesir. “Dan dengan demikian sultan telah berhasil menundukkan kawasan yang sangat luas di bawah kekuasan dinasti ini,” ujarnya.

Dinar Sultan Utsmaniyyah ini, kata Taqiyuddin,  merupakan temuan yang langka di Aceh, sehingga mestinya dapat dilestarikan sebagai bukti hubungan yang kuat antara dua bangsa Islam yang besar itu pada masa silam.

“Tapi sayangnya, menurut informasi yang tersiar, dinar ini telah dijual dan jatuh ke tangan orang yang tidak diketahui dengan harga perkepingnya Rp800.000. Tentu itu sebuah harga yang sangat murah untuk nilai sejarah yang dikandung tinggalan sejarah tersebut,” katanya.(syah)