Surat dari Negeri Keuluang Tersimpan di Tualang Pateng Aceh Timur

Sofyan (32) menunjukkan surat berasal dari Negeri Keuluang, Aceh Jaya sekarang, yang disimpan di kediamannya di Gampong Tualang Pateng, Peureulak Timur, Aceh Timur. (Foto: Misykah.com)
Sofyan (32) menunjukkan surat dari penghujung abad ke-19 yang berasal dari Negeri Keuluang, Aceh Jaya sekarang, yang disimpan di kediamannya di Gampong Tualang Pateng, Peureulak Timur, Aceh Timur. (Foto: Misykah.com)

MENURUT sebuah dongeng, nama Negeri Daya yang terletak di pesisir barat Aceh berasal dari suatu kejadian. H.M. Zainuddin menukilkan dongeng itu dalam bukunya, Tarich Atjeh dan Nusantara: manakala terjadi peperangan antara Raja Nagor dari Pedir dengan Pasai dan Nagor menang, beberapa orang keluarga bangsawan dari Pasai pindah menuju pesisir barat Aceh. Sampai di Kuala Daya, mereka tidak mampu meneruskan perjalanan. Mereka tak berdaya lagi. Karena ketidakberdayaan itu, akhirnya, mereka menyebut wilayah ini dengan tidak berdaya. Lama-kelamaan sebutan ini dipadai dengan daya.

Versi lain yang juga dinukilkan H. M. Zainuddin, sekelompok orang keturunan raja datang ke pesisir barat Aceh. Sampai di Kuala Daya, rakit atau perahu mereka kandas. Mereka turun untuk mendorong rakit itu namun usaha mereka sia-sia. Akhirnya, pemimpin mereka mengaku tidak berdaya sehingga tempat ini disebut dengan tidak berdaya.

Selain dari dongeng tersebut, belum ditemukan sumber lain yang menjelaskan asal-usul Negeri Daya. Namun, sebuah surat yang ditulis dalam Negeri Keuluang pada penghujung abad ke-19 M, dapat menjelaskan bahwa daerah di pesisir barat Aceh yang hari ini merupakan wilayah Kabupaten Aceh Jaya, dulunya, bernama Negeri Keuluang.

Sofyan (32) yang bertempat tinggal di Gampong Tualang Pateng, Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur menyimpan surat tersebut. Misykah.com menjumpai Sofyan di alamatnya pada, Ahad, 3 Agustus 2014, lalu. Sofyan yang merupakan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan mengaku pernah menjadi tangan kanan Teungku Ishak Daud (Panglima GAM Wilayah Peureulak di masa konflik Aceh dan RI—red), menyambut ramah. Pria berpostur tinggi besar ini sangat meminati sejarah. Dalam kesibukannya sehari-hari sebagai karyawan swasta pada sebuah perusahaan perkebunan di Aceh Timur, ia tidak pernah berhenti untuk menggali sejarah negerinya.

“Sebagai orang Aceh, kita mesti peduli dengan sejarah kita. Perjuangan Almarhum DR. Teungku Hasan di Tiro, juga karena alasan sejarah. Hari ini, setelah perdamaian, pembangunan Aceh yang menyeluruh semestinya juga atas alasan sejarah. Aceh pernah berperan penting dalam masa lalu bangsa-bangsa di Asia Tenggara, saatnya sekarang mengembalikan peran itu,” tutur Sofyan bersemangat.

Ketertarikan Sofyan kepada sejarah mendorongnya untuk mengumpulkan dan mengoleksi sejumlah buku-buku berbahasa Belanda. Ia berharap kepada Pemerintah Aceh agar buku-buku sejarah Aceh yang berbahasa Belanda itu dapat diterjemahkan dan dipublikasikan kepada masyarakat luas. Ia juga pernah mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dinamainya dengan Warisan Pusaka Aceh. Namun, menurutnya, sangat sulit mendapatkan dukungan pemerintah untuk soal ini.

Sejumlah buku yang dikoleksi Sofyan diperoleh dari Teuku Malikuldhahir. Buku-buku itu sebelumnya milik ayah Teuku Malikuldhahir yang katanya bekerja di Perpustakaan Malikussaleh di Yogyakarta.

Surat yang disalin Kerani Ya'qub Keuluang bertanggal 1 Jumadal Akhir 1304 H (1887 M), yang tersimpan di Tualang Pateng, Peureulak Timur, Aceh Timur. (Foto: Misykah.com)
Surat yang disalin Kerani Ya’qub Keuluang bertanggal 1 Jumadal Akhir 1304 H (1887 M), yang tersimpan di Tualang Pateng, Peureulak Timur, Aceh Timur. (Foto: Misykah.com)

“Dalam salah satu buku itulah terselip surat yang ditulis dengan bahasa Arab-Jawi,” kata Sofyan kemudian.

Surat yang dirawat dan disimpan baik oleh Sofyan ternyata merupakan surat berasal dari Negeri Keuluang yang terletak di pesisir barat Aceh, sekarang Aceh Jaya.

Keuluang sendiri, hari ini, merupakan nama sebuah mukim di Kecamatan Jaya, Aceh Jaya. Sejumlah nama tokoh dijumpai dalam naskah surat ini: Seri Paduka Bangta Kecik Tuanku Mahmud, Teuku Seri Setia Ulama, Raja Udah Lila, Teuku di Sapeik, Teuku Karut (?) Ladang Baru, Teuku Kuta Mane, Teuku Chik Muda Syah Bandar, Teuku Kecil dan Teuku Imam Sapeik. Beberapa nama di antaranya menginformasikan nama tempat semisal Teuku Seri Setia Ulama yang agaknya berkaitan dengan nama Kecamatan Setia Bakti di Aceh Jaya. Kemudian, nama Teuku Sapeik dan Teuku Imam Sapeik. Sapeik merupakan nama dua gampong yang berada dalam wilayah Kecamatan Jaya dan Kecamatan Setia Bakti. Begitu pula nama Teuku Karut (?) Ladang Baroe di mana hari ini dijumpai sebuah gampong di Kecamatan Panga bernama Ladang Baroe.

Negeri Keuluang tampaknya juga dibagi ke dalam dua kawasan sesuai topografinya, yaitu kawasan ladang di dataran tinggi dan kawasan pasir di pesisir. Sementara isi pokok surat adalah penyerahan wewenang perniagaan lada di laut dan darat kepada penghulu Negeri Keuluang, Seri Paduka Bangta Kecik Tuanku Mahmud. Surat ini sedikit banyak menampilkan dinamika perekonomian yang berlangsung di penghujung abad ke-19 M di mana lada merupakan komuditi tumpuan di daerah pesisir barat Aceh ini.

Dalam surat yang disalin oleh kerani (juru tulis) bernama Ya’qub Keuluang pada 1 Jumadal Akhir 1304 (25 Februari 1887) ini juga disebutkan satu jenis mata uang yang digunakan di masa tersebut, yaitu kupang busoek atau kupang dan busoek. Keterangan mengenai mata uang ini dijumpai dalam “Mata Uang Kerajaan-Kerajaan di Aceh” yang ditulis pakar sejarah Aceh, Rusdi Sufi. Dalam tulisannya, Rusdi menyebutkan bahwa mata uang gupang (kupang) dan busoek ini merupakan mata uang yang dicetak dari perak, dan pembuatnya adalah orang-orang keling (India—red). Sultan Aceh telah mengizinkan Uleebalang Pedir untuk mencetak mata uang yang berbeda dengan mata uang keuh yang dicetak dan berlaku di wilayah Aceh Besar.

Dari keterangan itu, tampaknya perizinan serupa untuk mencetak mata uang kupang dan busoek juga telah diberikan Sultan Aceh kepada penguasa Negeri Keuluang di penghujung abad ke-19 M, Seri Paduka Bangta Kecik Tuanku Mahmud.

Berikut transkripsi teks surat yang terdiri dari 17 baris:

(1) Dalam Negeri Keluang tatkala hijrah tahun seribu tiga ratus empat tahun kepada sehari bulan

(2) Jumadal Akhir (25 Ferbuari 1887), pada hari Khamis pada ketika jam pukul dua belas pagi……. kita

(3) Teuku (Seri Setia Ulama Panglima)………………………………………………….tiga

(4) Raja Udahna Lila dan segala pengikutnya orang yang tersebut itu dan Teuku di Sapeik dan Teuku

(5) Karut Ladang Baru dan Teuku Kuta Mane dan Teuku Chik Muda Syah Bandar dan Teuku Kecil

(6) dan segala pengikutnya segala pertuha yang telah tersebut itu yang memegang perintah ladang Negeri Keluang dan yang

(7) pertuha dalam kampung seperti Teuku Imam Sapeik persembahkan sepucuk surat ini di bawah kawasa (kuasa)

(8) Seri Paduka Bangta Kecik Tuanku Mahmud menyatakan tanda yaqin segala kami serta harap dengan

(9) seharap-harap hati yang nurani dengan kesukaan serta dengan ikhlas memulangkan segala perintah peraturan

(10) perniagaan lada laut darat seperti di atas harga lada dan hasil lada kita, semuha menerima

(11) di bawah perintah tuanku, masing-masing di atas lila (rela) qadarnya seperti aturan yang dahulu kala yang patut terima

(12) suka atawa terima kupang busoek atawa harga lada atawa haq kerani (?) atawa barangbagainya maka tiadalah

(13) berpaling kami pada Allah dan Rasul, daritu tiadalah berpaling segala kami yang anak mas (?)

(14) Tuanku di bawah kawasa Seri Paduka Tuanku Bangta Kecik yang penghulu selama ada peredaran

(15) cakrawala matahari dan bulan. Demikianlah segala kami telah menyerahkan diri dengan terang benderang di bawah

(16) kawasa Seri Paduka Penghulu kami Bangta Kecik Tuanku Mahmud yang mulia sebab sah dan nyatanya surat

(17) kami menurunkan cap dan tanda tangan di bawah sathar (baris) ini dengan muwafaqah segala kami yang di pasir dan yang di ladang adanya. Tammat al-Kalam.

Pada bagian kaki surat terdapat kalimat:

سنة العرب 1304 وكاتبه كراني يعقوب كلواغ  (tahun Arab 1304 dan penulisnya Kerani Ya’qub Keuluang)

Pada sisi kanan terdapat cap-cap:

1. Cap Seri Setia Ulama 1251

2. Inilah ‘alamah tsiqah (tanda terpercaya) nama Raja Khalut (?)) Ladaum Kawah Muling (?) di Teunom Kuta.

3. Teuku Cut Kam……(?) Teuku Raja.. (?)

Tulisan dan tanda tangan di halaman belakang surat:

(1)  Syaikh Salman Farisiy

(2) Hijrah Nabi

(3) Panglima Seri Setia Ulama

(4) Seri Setia Ulama Panglima Tengah Tiga Puluh

(Muhammad Ilyas, Malikussaleh Al-Alubiy, Khairul Syuhada, Munawir)