Tauke Bangkrut gara-gara Bisniskan Batu Nisan Bersejarah

Kompleks makam di Cot Gunduek, Kecamatan Pidie, Pidie. (Foto: Khairul Syuhada)
Kompleks makam di Cot Gunduek, Kecamatan Pidie, Pidie. (Foto: Khairul Syuhada)

PULUHAN kompleks makam serta ratusan batu nisan kuno tinggalan Kerajaan Aceh ditemukan Tim Center for information of Samudra Pasai Heritage (CISAH) pada Kamis, 23/1/2014, di Gampong Cot Gunduek, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie. Sebarannya muncul hampir di rata tempat dalam Gampong, dan tipologi nisan-nisannya pun menampilkan dua zaman sejarah; Samudra Pasai dan Aceh Darussalam.

Mirisnya, situs-situs pemakaman yang bernilai sejarah itu seperti tidak bertuan; terbengkalai di semak-semak, tercabut, patah, terbenam, dijadikan batu asah parang dan benda tajam lainnya. Lebih tampak seperti benda-benda yang tidak bernilai padahal merupakan benda cagar budaya (BCB).

Malah, pengakuan sebagian warga setempat, dulu ada agen-agen yang datang ke gampong ini untuk membeli batu-batu nisan dari warga. Mereka lalu menjualnya ke Medan, Sumatera Utara. “Masyarakat tidak tahu pentingnya warisan budaya ini. Jadinya mereka jual saja,” kata Shalihin, 23, pemuda Cot Gunduek.

Salah satu nisan bersejarah yang sudah direncanakan untuk dijual ialah nisan milik seorang wanita bernama Shafiyah dari masa sekitar abad ke-16. Nisan ini terlihat sudah tersandar di sebatang pohon kelapa, depan Meunasah Cot Gunduek. Beberapa potongan nisan patah lainnya juga terlihat di sana.

Nisan-nisan ini, kata Shalihin, sebenarnya bukan di sini letaknya. Aslinya (in situ) di sebuah gundukan di tengah sawah, disebut Cot Kuthang. “Di sana ada beberapa nisan lagi,” ujarnya.

Saat ditanya, mengapa nisan-nisan ini sudah tidak berada lagi di tempat aslinya, Shalihin menjawab, sebenarnya nisan-nisan ini, dulunya, mau di jual kepada agen-agen yang memasarkannya ke Medan. “Tapi, kabarnya kemudian, tauke yang mau beli nisan ini bangkrut. Ya, akhirnya berada di sini, tidak dikembalikan lagi ke tempatnya semula,” jelas mahasiswa Fakultas Tehnik, Unigha, ini.

Setelah kejadian itu, batu-batu nisan bersejarah di Gampong Gunduek rada aman dari jarahan. Agen-agen sudah berapa lama tidak nampak mukanya lagi. Mungkin, karena tauke penadah benda-benda dilindungi hukum itu kena malang perbuatannya sendiri; membisniskan batu-batu nisan orang-orang yang telah mati di masa sejarah yang gemilang. Semoga jadi pelajaran bagi yang lain! (Sukarna Putra)

Lihat foto-fotonya:

Baca Juga :
Sultan Bertahta di pedalaman Pidie
Pidie di Bawah Teduh Rumpun Bambu
Giliran Kembang Tanjong Tunjukkan Bukti Sejarah