Ungkapan Rindu tak Terbatas Sang Rafly

Musisi Aceh, Rafly, saat tampil pada acara BEM UNIMAL, Lhokseumawe, Ahad malam, 22/12/2013. (Foto: CISAH)
Musisi Aceh, Rafly, saat tampil pada acara BEM UNIMAL, Lhokseumawe, Ahad malam, 22/12/2013. (Foto: CISAH)

MALAM baru saja melewati batas Maghrib ketika pria berparas khas Negeri Pala itu terlihat sedang bercakap-cakap dengan “wareih”nya (handai tolannya) di balai CISAH, Lhokseumawe. “Malam ini kita akan menyuguhkan sesuatu yang istimewa untuk mereka,” ucap pria yang tak pernah lepas senyum ini.

Sejurus kemudian, balai CISAH tampak padat. Beberapa tokoh aktifis Sampena dan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Malikussaleh (BEM UNIMAL) di Lhokseumawe hadir untuk menyambut pria yang memang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya pada hari itu, Ahad, 22/12/2013. Teungku Rafly, sapaan akrab musisi dan budayawan Aceh ini, malam tersebut, dijadwalkan manggung untuk memeriahkan acara penutupan kegiataan BEM UNIMAL bertema: “Budaya, Pelajaran Masa Lalu, Kekuatan Masa Kini, dan Harapan Masa Depan”.

“Kita sengaja mengundang Kanda Rafly, karena beliau memang sosok seniman Aceh yang paling cocok tampil dalam kegiatan dengan tema yang kami angkat. Kami sudah merencanakan itu jauh-jauh hari,” beber Firdaus Nuzula, Presiden BEM, dalam sebuah wicara misykah.com dengannya.

Pukul 22.00, dari atas panggung ACC UNIMAL yang telah dipersiapkan seapik mungkin oleh panitia kegiatan, bergema suara Master of Ceremonies (MC), “Dan kini, tibalah saat yang dinanti-nantikan.” Sontak, suara tepuk tangan dan riuh menggelegar di ruang yang dipadati ratusan mahasiswa dan tamu undangan. Dari balik panggung, muncul Teungku Rafly. Senyum musisi kebanggaan masyarakat Aceh ini tak kunjung lepas dari bibirnya. Tidak itu saja, wajahnya seolah menyinarkan cahaya kerendahan hati saat riuh rendah tepuk tangan pengagumnya tak terbendung. Dalam hiruk-pikuk itu, sayup terdengar komentar seorang penonton, “Dia selalu begitu. Jangankan lagunya, dirinya sendiri adalah pesan damai.”

Rafly ingin menjadikan malam itu suatu malam yang khusus. Sebuah tembang istimewa telah dipersiapkan untuk dilantunkan. Ia hendak mengungkapkan sebuah kerinduan, dan dalam benaknya, telah terpatri sebuah harapan. “Saya datang untuk Samudra Pasai dan Sultan Al-Malik Ash-Shalih,” ungkapnya dalam sebuah percakapan di bawah panggung, “saya ingin menyampaikan pesan, dan berharap semoga pesan ini dapat tersampaikan dengan baik, terutama untuk generasi muda.”

Seniman tarik suara, yang menurut para pengamat dan ahli musik, merupakan salah seorang “biang” dari genre super jazz ini, tidak main-main saat menyanyikan lagu berjudul “Al-Malik Ash-Shalih”. Ia seolah sedang mengisi dadanya dengan seluruh warisan masa lalu Aceh, kemudian menghembuskannya lewat nada dan untaian kata yang takkan kemana selain ke hati pendengarnya.

“Sesungguhnya dunia ini fana

Dunia ini tiada kekal

Ibarat sarang yang ditenun laba-laba

Memadailah buat engkau dunia ini

Hai orang-orang yang mencari makan

Umurnya hanyalah singkat saja

Semuanya akan menuju kematian”

Ajaib sekali ketika di awal lantunannya, sang seniman tampak sedang memboyong dengan sangat hati-hati petuah-petuah yang dipetiknya dari masa lalu. Petuah-petuah itu dibuatnya seolah baru saja muncul dari kesenyapan zaman yang menguburnya untuk kemudian terlihat terang dan semakin terang, dan mendadak sangat nyaring; membukakan mata yang tertutup, menyadarkan hati yang luput. Rafly telah menyampaikan pesannya.

Tapi senandung belum usai. Rafly belum selesai dengan kerinduannya pada makna-makna terukir di masa lampau. Di puncak nada, ia menyinggasanakan Sultan Al-Malik Ash-Shalih, penguasa Samudra Pasai di kurun ke-13 masehi yang panutan itu. Lewat kumandang bait-bait syair sang seniman, Sultan pun tampak dengan segala kebesarannya. Jauh dari gambaran lesu dan ambruk yang ditampilkan mitos, dalam deru irama dan lantunan yang meninggi oleh sang seniman, Sultan tampil sebagai pribadi penuh semangat, tinggi cita-cita, dan kuat tekadnya di jalan yang diridhai Tuhan. Sultan seolah menjelma di depan mata.

“Kepunyaan hamba yang dihormati

Yang diampuni

Yang bertaqwa

Yang menjadi penasehat

Yang terkenal

Yang berketurunan mulia

Yang bergelar Sultan

Malik Ash-Shalih ”

Dan kerinduan yang tak terbatas itu pun akhirnya terungkap jua. (Tim misykah.com)