Universitas Syiah Kuala Pamerkan Prasasti Kerajaan Islam Lamuri

pameran ACC dayan Dawod
Pengunjung pameran sedang melihat-lihat beberapa pajangan benda-benda artefak peninggalan sejarah di Gedung AAC Dayan Dawood. (Foto: Mawardi Ismail)

SALAH SATU batu nisan bersurat peninggalan sejarah zaman Kerajaan Islam Lamuri lengkap dengan keterangannya terpampang jelas di depan pintu masuk utama gedung AAC Dayan Dawood, Kompleks Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh. Batu nisan berinskripsi yang diselamatkan dari Gampong Lamreh, Aceh Besar itu ditampilkan pada acara Pameran Arkeologi dan Sejarah Islam Asia Tenggara yang diprakarsai oleh Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Tak pelak, pengunjung pun memadati tempat di mana nisan bersurat tersebut diletakkan. Ini disebabkan oleh adanya keterangan yang menjelaskan bahwa batu nisan anonim (tanpa nama-red) yang ditampilkan itu memuat tarikh wafat tertua di Asia Tenggara, yakni tahun 398 H/1007 M.

Namun, Nurdin AR, mantan penanggungjawab Museum Negeri Aceh yang hadir sebagai tamu undangan pada acara pembukaan pameran, mengemukakan kepada misykah.com, bacaan pada nisan tersebut memuat keterangan yang keliru.

“Nampaknya Suprayitno, yang mengkaji tulisan itu tidak mengenal kaedah penahunan dalam bahasa Arab, seharusnya bacaan yang benar adalah 839 H/1437 M, dan ini sudah dibenarkan oleh ahli Epigrafi Arab, Taqiyuddin Muhammad,” kata Nurdin.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ramli A. Dally, pengurus Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI), cabang Aceh. Ia ikut menyesalkan kekeliruan fakta sejarah yang dipamerkan. Menurutnya, ini akan berdampak pada masyarakat, bahkan bisa menimbulkan polemik lain ke depan.

“Maka yang harus kita lakukan sekarang adalah meluruskan setiap penulisan sejarah dengan benar. Itu penting!” ujarnya.

Penyelenggara acara, Kepala PPISB Universitas Syiah Kuala, Dr. Husaini, MA., yang di wawancarai misykah.com pada hari terakhir pameran mengungkapkan bahwa keterangan soal bacaan batu nisan itu bersumber langsung dari Suprayitno, arkeolog dari Universitas Sumatera Utara, dan atas izinnya pula batu nisan itu ditampilkan.

“Perihal benar atau salah, kita kan memiliki beberapa sumber, dan ini sangat kita harapkan supaya ke depan bisa kita adakan semacam seminar untuk membahas mana yang benar, dan mana yang keliru. Jadi, ini bukan soal klaim mana artefak yang lebih tua,” tuturnya

Untuk acara pameran, Dr. Husaini menjelaskan, “Sebelumnya, memang sudah ada MoU untuk acara ini, tapi sekarang kita laksanakan MoA (Memorandum of Agreement) dengan Pusat Penyelidikan Arkeologi Global Malaysia. Akan ada kegiatan berkelanjutan soal research dan penelitian di kemudian harinya, termasuk pertukaran mahasiswa untuk kajian Asia Tenggara. Dan yang lebih besar lagi, kita berharap bisa mendirikan satu gedung galeri serta museum arkeologi guna menyelamatkan data-data sejarah Islam yang ada di Aceh.

Pameran yang dilaksanakan tanggal 26-27 Februari 2014 itu menampilkan berbagai dokumen-dokumen yang didatangkan dari Gedung Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), aneka manuskrip dari kolektor Tarmizi A. Hamid dan berbagai foto bernilai sejarah.

Acara itu terselenggara berkat kerja sama tiga universitas besar; Universitas Syiah Kuala, Universitas Sains Malaysia dan Universitas Sumatera Utara. Kerja sama ini telah diikat lewat penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) oleh tiga rektor, masing-masing: Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng dari UNSYIAH Aceh, Prof. Dato. Dr. Omar Osman dari USM Malaysia, dan Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, SH., MLI dari USU Medan, yang berlangsung di Balai Senat Unsyiah, Banda Aceh. Dan akan berlaku untuk selama lima tahun ke depan.

Shakina (20), salah satu mahasiswi pengunjung pameran dari Universitas Nasional Singapura (NUS) untuk jurusan Pengajian Sains Sosial Masyarakat mengungkapkan kekagumannya terhadap kekayaan sejarah di Aceh. “Kita di sana tidak ada kajian soal artefak-artefak semacam ini. Tapi di sini, kita bisa melihat sambil kemudian bisa berbicara langsung dengan pakarnya”, ujarnya. [Mawardi Ismail]