Wardina Safiyyah Kunjungi Makam Sultan Aceh

Wardina Syaffiyah
Wardina Safiyyah (berkerudung ungu) saat diwawancarai misykah.com di sekitar makam Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh. Foto: Ibrahim

TAMPIL anggun dalam balutan busana gamis, Wardina Safiyyah berkunjung ke makam Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh pada Ahad (22/12/2013). Selebriti Malaysia berdarah campuran Australia dan Aceh ini menyukai sejarah dan kebudayaan Islam.

“Ya, suka jalan-jalan (mengunjungi situs sejarah). Bukan jalan-jalan makan angin, tapi sambil bercuti ditambah iman,” ujar Wardina Safiyyah dengan wajah berhias senyum kepada misykah.com seusai berziarah di makam Sultan Iskandar Muda. “Nilai-nilai sejarah itu penting untuk hidup kita,” kata dia.

Saat ziarah ke makam Sultan Kerajaan Islam Aceh Darussalam itu, Wardina Safiyyah ditemani lebih 20 orang yang adalah keluarga dan temannya. “Saya bawa rekan-rekan saya yang cinta sejarah ke Aceh,” kata wanita berhijab ini.

Ia juga pernah ke Turki yang menyimpan banyak tinggalan sejarah Islam. “Jadi saya paham antara Aceh dengan Turki rapat sekali hubungannya,” ujar Wardina Safiyyah. “Menarik kalau kita mengunjungi negara-negara yang ada nilai sejarah kan”.

Wardina Safiyyah lahir di Kuala Lumpur, 5 Juni 1979 silam. Ayahnya, Fadlullah Wilmot, asal Australia yang pernah menjadi tenaga pengajar di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Ibunya, warga Aceh yang kemudian menetap di Malaysia bersama suami dan anak-anaknya.

Lantaran darah Aceh mengalir dalam tubuhnya, Wardina tak sungkan berbicara menggunakan bahasa Aceh. Ia sering pulang alias saweu gampong sebagai bukti kecintaanya terhadap Aceh. “Hari raya lalu pulang ke Meulaboh,” tuturnya.

Aceh, kata Wardina, dikenal oleh dunia sebagai Serambi Mekah. “Pusatnya Islam berkembang,” ujarnya. Namun, ia menilai Aceh yang dahulu dengan Aceh masa kini sudah jauh beda.

“Sebenarnya apabila kita kembali ke sini, melihat lunturnya nilai-nilai Islam di tengah masyarakat Aceh, rasanya pilu, sedih. Kalau kita lihat anak-anak muda ketika tiba waktu salat, azan Magrib, masih di kedai kopi, isap rokok,” kata Wardina.

“Padahal sudah kita baca sejarahnya: aduh hebat betul Islam di Aceh ini. Tapi kenapa begini jadinya? Sedih, ya, sedih kita melihatnya. Karena di Malaysia Aceh dikenal sebagai Serambi Mekah, tapi mengapa di Aceh kita lihat begini sekarang,” ujar dia lagi.

Lantaran perubahan tersebut, kata Wardina, ibunya sempat menangis tatkala pulang ke Aceh. “Harapan saya semoga ada kesadaran, sudah Allah bagi tsunami, mengapa masih ada yang tidak mau ambil pelajaran,” tuturnya.

“Padahal kan kalau dikuatkan kembali sejarah sama rakyat Aceh, begitu hebatnya mereka karena Islam. Jadi kalau mau hebat kembali, kembalilah kepada Islam yang sebenarnya,” Wardiina berharap.

Wardina Safiyyah memulai karirnya di Malaysia sebagai model saat berusia 18 tahun. Ia lantas menjadi pembawa acara televisi hingga membintangi sejumlah film dan iklan.

“Kemudian saya mencintai Islam, abis tu kan ditukar hidupnya pakai jilbab, sebelum tu nggak ada kan. Abis tu makin sayang sama Islam, makin cinta, makin berubah hidup, kita berikan nilai-nilai Islam lah dalam hidup,” ujar Wardina.

Wardina melepas masa lajang pada usia 23 tahun setelah dinikahi Ikhwan Johari,  arsitek di Malaysia. Kini ia memiliki tiga cahaya mata: Amna Nafeesa, Azra Sareera dan Imran Arrazi. Meski sudah berumah tangga, ia terus berkarir sampai sekarang. (man)