Wisatawan Lokal Menyemut di Krueng Keureuto Aceh Utara

Lokasi rekreasi di aliran Krueng Keureuto kawasan Sarena Maju, Paya Bakong, Aceh Utara, menjadi tujuan wisata bagi warga masyarakat Aceh Utara dan sekitarnya. (Foto: Husaini Usman)
Lokasi rekreasi di aliran Krueng Keureuto kawasan Sarena Maju, Paya Bakong, Aceh Utara, menjadi tujuan wisata bagi warga masyarakat Aceh Utara dan sekitarnya. (Foto: Husaini Usman)

TIDAK seperti tahun-tahun sebelumnya, lokasi bendungan Alue Ubay dan Ujong Bate, Gampong Blang Pante, Kecamata­­n Paya Bakong, Aceh Utara, belakangan ini ramai dikunjungi warga dari berbagai gampong di Aceh Utara dan luar Aceh Utara. Dalam masa-masa liburan Hari Raya Idul Fitri, dua lokasi di Krueng Keureuto, kawasan Sarena Maju, tampak ramai oleh warga yang datang untuk menikmati kesejukan aliran sungai dan pemandangan alamnya yang indah.

“Objek wisata Sarena Maju sebenarnya sudah dibuka sejak beberapa tahun lalu, namun karena jarang dipublikasi dan jaraknya yang jauh ke pedalaman, jadinya pengunjung sedikit yang berdatangan. Baru pada lebaran tahun ini lokasi tersebut ramai dikunjungi,” tutur Fahmi Kamal (29), warga Gampong Pucok Alue, Paya Bakong, kepada Misykah.com (02/08/2014).

Menurut Fahmi, para pengunjung tidak saja dari Aceh Utara tapi juga dari Lhokseumawe, Aceh Timur dan Bireuen. Pantauan Misykah.com, masyarakat Paya Bakong menyambut gembira “tamu-tamu” yang berlibur ke daerah mereka. Mereka antusias memberikan kenyamanan yang dibutuhkan para pengunjung mulai dari menyediakan warung-warung untuk menjual makanan ringan dan lainnya sampai areal parkir.

“Bagi kami, daerah kami dikunjungi, itu suatu hal yang membanggakan dan membahagiakan. Hanya saja, semua pihak baik pengunjung maupun warga setempat harus menjaga norma-norma, dan berperilaku sesuai dengan syari’at Islam. Jadikanlah, berkunjung ke daerah kami sebagai bagian dari tafakkur akan kebesaran Allah Ta’ala, dan tidak semata-mata untuk bersenang-senang,” ungkap Fahmi yang juga salah seorang anggota LSM CISAH, Lhokseumawe.

Warga menikmati kesejukan aliran air Krueng Keureuto dan pemandangan alam yang indah di kawasan Sarena Maju, Paya Bakong, Aceh Utara. (Foto: Husaini Usman)
Warga menikmati kesejukan aliran air Krueng Keureuto dan pemandangan alam yang indah di kawasan Sarena Maju, Paya Bakong, Aceh Utara. (Foto: Husaini Usman)

Krueng Keureuto merupakan salah satu sungai terpenting di Kabupaten Aceh Utara yang berhulu di kaki Gunung Geureudong. Tidak seperti di bagian hilirnya di mana ia dianggap sebagai penyebab timbulnya bencana banjir, Krueng Keureuto di bagian hulu justru memiliki seluruh pesona yang memikat. Barisan gunung yang biru tampak lebih dekat dari sana. Perjalanan ke lokasi wisata yang terkadang melintasi jalan di tengah-tengah areal persawahan di pedalaman Kabupaten Aceh Utara juga merupakan hal yang mengasikkan.

Teras sungai yang unik merupakan salah satu daya tarik warga untuk berekreasi di aliran Krueng Keureuto di kawasan Sarena Maju, Paya Bakong, Aceh Utara. (Foto: Husaini Usman)
Teras sungai yang unik merupakan salah satu daya tarik warga untuk berekreasi di aliran Krueng Keureuto di kawasan Sarena Maju, Paya Bakong, Aceh Utara. (Foto: Husaini Usman)

 

“Kami ke sini mencari suasana baru,” ujar Husaini Usman yang datang dari Kota Lhokseumawe, “lebih-lebih saat cuaca dalam beberapa hari ini terasa sangat panas. Di sini sejuk, airnya bening dan dingin, dan pegunungan terlihat dekat sekali.”

Keureuto di Zaman Purba

Tidak saja air sungai yang sejuk dan pemandangan alam yang indah, Keureuto juga menyimpan rekaman kehidupan dari zaman purba. Hal ini diungkapkan Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah kebudayaan Islam di Lhokseumawe.

“Dalam Ekspedisi Meugat Seukandar III di kawasan aliran Krueng Keureuto, 2012, teramati beberapa hal terkait geo-arkheolgi yang perlu dipelajari secara lebih mendalam oleh para ahlinya,” kata Taqiyuddin.

Ekspedisi Meugat Seukandar III yang pada waktu itu difokuskan untuk menemukan dan mendata tinggalan sejarah kebudayaan Islam Kerajaan Islam Samudra Pasai di bagian hulu Krueng Keureuto mengamati hal-hal yang menimbulkan tanda tanya tentang bagaimana proses terbentuknya bentang alam di kawasan tersebut, terutama di kawasan Krueng Keureuto dan sungai-sungai terdekat denganya.

Satu sisi dari teras sungai Krueng Keureuto yang direkam Tim Ekspedisi Meugat Seukandar III, 2012 silam (Foto: CISAH)
Satu sisi dari teras sungai Krueng Keureuto yang direkam Tim Ekspedisi Meugat Seukandar III, 2012 silam (Foto: CISAH)

Tim Ekspedisi memperkirakan bahwa aliran-aliran sungai di kawasan tersebut terbentuk oleh akibat jalur aliran lahar (lava) dari sebuah ledakan gunung vulkanik di zaman purba, yang belum dapat diperkirakan penanggalannya. Aliran lahar itu tampaknya telah menutupi sebagian besar hutan, dan membentuk jalur-jalur baru bagi aliran air. Di kawasan itu pun sangat banyak ditemukan fosil-fosil, yakni tumbuh-tumbuhan purba yang telah membatu, khususnya di aliran Krueng Rampah yang merupakan salah satu pemasok air ke Krueng Keureuto.

“Yang lebih menarik lagi, di lokasi yang sekarang dijadikan objek wisata oleh masyarakat, yaitu di Ujong Bate, dijumpai jejak-jejak hewan yang tampaknya sedang berlarian menyelamatkan diri dari letusan gunung berapi. Kawasan ini sangat layak untuk direkomendasikan menjadi lahan kajian geologi dan geo-arkheologi,” terang Taqiyuddin.

“Saya bukan ahli geologi, tapi andaikata saya punya dana, saya ingin membiayai para peneliti untuk mengkaji daerah ini. Saya secara pribadi sangat penasaran ingin mengetahui ‘cerita’ kawasan ini di zaman purbanya. Berharap kepada pemerintah? Sepertinya, pemerintah kurang tertarik dengan hal-hal bersifat pengembangan ilmu pengetahuan. Apa hendak dikata, pikiran kita memang sangat terbelakang,” ungkapnya lagi.

Jejak kaki hewan yang tercetak pada batu di aliran Krueng Keureuto yang ditemukan Tim Ekspedisi Meugat Seukandar, 2012. (Foto: CISAH)
Jejak kaki hewan yang tercetak pada batu di aliran Krueng Keureuto yang ditemukan Tim Ekspedisi Meugat Seukandar, 2012. (Foto: CISAH)
Tapak kaki hewan yang tercetak pada batu di aliran Krueng Keureuto, Paya Bakong, Aceh Utara. (Foto: CISAH, 2012)
Tapak kaki hewan yang tercetak pada batu di aliran Krueng Keureuto, Paya Bakong, Aceh Utara. (Foto: CISAH, 2012)

Dari informasi yang didapat dari beberapa warga Pucok Alue, lokasi objek wisata ini, nantinya, akan menjadi waduk dari bendungan raksasa yang dibangun Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan sudah mulai dikerjakan sejak tahun ini. Bendungan raksasa tersebut bertujuan, terutama, untuk mencegah banjir yang kerap melanda wilayah-wilayah kecamatan Matang Kuli, Serba Jaman dan Lhokseukon. (Sukarna Putra)

Fosil dalam bongkahan batuan vulkanik di Krueng Rampah, Paya Bakong, Aceh Utara. (Foto: CISAH, 2012)
Fosil dalam bongkahan batuan vulkanik di Krueng Rampah, Paya Bakong, Aceh Utara. (Foto: CISAH, 2012)
Lava yang telah membatu di bantaran Krueng Rampah, pedalaman Paya Bakong, Aceh Utara. (Foto: CISAH, 2012)
Lava yang telah membatu di bantaran Krueng Rampah, pedalaman Paya Bakong, Aceh Utara. (Foto: CISAH, 2012)
Taburan fosil di aliran Krueng Rampah, salah satu batang sungai yang mengalirkan airnya ke Krueng Keureuto di pedalaman Paya Bakong, Aceh Utara. (Foto: CISAH, 2012)
Taburan fosil di aliran Krueng Rampah, salah satu batang sungai yang mengalirkan airnya ke Krueng Keureuto di pedalaman Paya Bakong, Aceh Utara. (Foto: CISAH, 2012)