Wisatawan Malaysia Sebut Aceh sebagai Tanah Leluhurnya

HIKMAH
Wisatawan Malaysia yang tergabung dalam perkumpulan Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman (HIKMAH) berpose bersama setelah jamuan makan malam di Meuligo/Pendopo Gubernur Aceh (29/03/2014) foto: Mawardi Ismail/Misykah.com

SUASANA Aceh yang semakin kondusif membuat wisatawan dari luar negeri berbondong-bondong mengunjungi Aceh. Sebuah perkumpulan warga Malaysia yang menamakan dirinya Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman (HIKMAH) menginjakkan kakinya di Aceh, tempat yang mereka sebut sebagai tanah leluhur mereka. Rombongan wisatawan asal Malaysia itu mengenakan pakaian adat lengkap dari berbagai daerah di Malaysia sebagai perwakilan identitasnya dalam kebudayaan Melayu.

Rombongan wisatawan asal Malaysia yang berjumlah 24 orang itu terdiri dari berbagai kalangan dan usia, mereka tinggal di Aceh selama tiga hari, dan mengambil jadwal untuk mengunjungi beberapa tempat bersejarah serta berziarah ke makam-makam para sultan dan raja-raja Aceh, bahkan mereka telah sampai ke komplek makam Malik Ash-Shalih dan Sultanah Nahrasyiyah masa Kerajaan Islam Samudra Pasai di Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara (28/03/2014).

Wisatawan yang kembali dari Pasai dan sampai di Banda Aceh di sambut oleh Komunitas Pakaian Adat Aceh yang mempersiapkan acara dengan tema “Silaturrahmi dan Muhibbah Seni Sejarah dan Warisan Kebudayaan Melayu Serumpun Nusantara antara Aceh dan Malaysia”. Rombongan yang tergabung dalam grup HIKMAH juga mengikutsertakan peminat-peminat budaya dari Malaysia.

Muhajir, Sekretaris Komunitas Pakaian Adat Aceh kepada Misykah.com menyebutkan bahwa wisatawan religi dari Malaysia itu telah datang pada tanggal 27 dan akan kembali ke Malaysia Tanggal 31 Maret 2014. Acara jamuan dan pemaparan kebudayaan diadakan di Museum Rumoh Aceh Komplek Bapperis Banda Aceh, Sabtu, 29 Maret 2014

Ketua panitia penyelenggara acara, Mujiburrizal, dalam sambutannya mengharap tetamu yang datang dari Malaysia untuk bisa ikut mempromosikan pariwisata Aceh serta melakukan investasi. “Kita pun di sini harus selektif memilih investor, melihat mana serumpun dan mana saudara, semoga silaturrahmi bisa mengembalikan semangat kita guna membangun Aceh ke depan”. Ujarnya.

Razi Syafi’i, Ketua dan koordinator HIKMAH asal Malaysia ketika berbicara di hadapan tamu yang hadir juga mengharapkan kedatangan mereka ke Aceh bisa menjalin silaturrahmi untuk membangun Islam dan bangsa Melayu ke depan. “Yang penting keikhlasan dan kejujuran, kita mesti melestarikan sejarah budaya untuk mengangkat nilai-nilai Islam”, tuturnya.

Razi menambahkan, “Sebenarnya yang mau di angkat itu marwah dan jati diri kita yang hilang, mereka yang menjajah mengubah pola pikir kita, sehingga pandangan kita terarah pada pandangan orientalis. Peranan raja-raja (penjaga Islam), itu pun coba dihilangkan, dan saat ini ramai yang sedar, ini memang akhir zaman, orang Islam di serang di mana-mana. Sudah disebut banyak pihak, Islam akan bangkit di Timur”, ujar laki-laki pengarang buku “Berpetualang ke Aceh” itu.

Zulkarnaini, Kabid Kebudayaan Aceh mengatakan bahwa Pemerintah Aceh sangat mendukung acara-acara seperti itu. “Kita akan memfasilitasinya ke depan. Kami dari dinas kebudayaan dan pariwisata aceh juga ikut, kami melihat suasana persaudaraan dan kesederhanaan di bawah Rumah Aceh itu. Memang tamu lah yang meminta kita menyediakan tikar untuk bersila di bawah Rumoh Aceh, kami terharu sekali, itulah budaya kita. Tidak perlu bermewah-mewah”, ujarnya.

Disamping itu ia juga berjanji akan mengusahakan dana supaya tahun depan Aceh bisa memberangkatkan 50 orang ke malaysia. “Kita akan sediakan pasport dan akomodasinya”. Ujar Zulkarnaini yang juga di sebut sebagai salah satu keturunan Teuku Raja Nagan itu.

Sambutan kunjungan wisatawan itu ikut dilaksanakan oleh beberapa LSM peduli sejarah dan budaya di Aceh, antara lain Komunitas Pakaian Adat Aceh, Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA), Aceh Lamuri Foundation (ALIF), Center Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH) dan Sejarah Indatu Lemuria Aceh (SILA). Pada akhir kedatangannya, wisatawan Malaysia ini kemudian mendapat jamuan makan malam di Pendopo Gubernur Aceh. [Mawardi Ismail].