Zawiyah Miruk, Aceh Besar: Jejak Masa Lampau Tasawuf di Aceh

Bagian dalam bangunan Zawiyah di Gampong Miruk, Aceh Besar (Foto: CISAH)
Bagian dalam bangunan Zawiyah di Gampong Miruk, Aceh Besar (Foto: CISAH)

 

Bagian luar bangunan zawiyah. (Foto: CISAH)
Bagian luar bangunan zawiyah. (Foto: CISAH)
Cincin sumur atau wadah air terbuat dari batu di sebelah bangunan zawiyah di Gampong Miruk, Aceh Besar. (Foto: CISAH)
Cincin sumur atau wadah air terbuat dari batu di sebelah bangunan zawiyah di Gampong Miruk, Aceh Besar. (Foto: CISAH)

KEMANA pun kita pergi di Asia Tenggara ini, ketika orang-orang Islam berbicara mengenai sejarah tasawuf di Nusantara, mereka nyaris tak pernah luput menyebut nama-nama tokoh semisal Hamzah Fanshuriy, Syamsuddin As-Sumatraniy, Nuruddin Ar-Raniriy dan ‘Abdur Ra’uf Ar-Sinkiliy. Karya-karya para tokoh tasawuf itu diyakini sebagai sumber-sumber pemikiran tasawuf di Nusantara. Tokoh-tokoh besar itu dikenal sebagai ulama Aceh. Karenanya, Aceh pun dipandang sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan tasawuf Islam di Nusantara dan Asia Tenggara.

“Tidak hanya tokoh-tokoh ulama tasawuf serta karya-karya mereka. Dari seluruh wilayah Nusantara, barangkali, hanya Aceh-lah satu-satunya yang secara menonjol mengabadikan pengaruh tasawuf dalam pendidikan Islam dan menamakan lembaganya dengan dayah. Kata ini merupakan peralihan fonetik dari zawiyah yang dalam bahasa Arab berarti pojok dari suatu tempat. Secara istilah, zawiyah adalah tempat yang dipersiapkan khusus untuk ibadah dan pangkalan bagi para mujahidin. Dan juga tempat bagi orang-orang yang ingin menuntut ilmu agama. Di situ diberikan dan diperlengkapi semua hal yang mereka perlukan,” tutur Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah kebudayaan Islam Aceh, sesaat peninjauannya ke sebuah bangunan kuno di Gampong Miruk, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Rabu (11/12/2013).

“Dari sisi arsitektural dan keletakannya, bangunan itu jelas merupakan sebuah zawiyah; orang Aceh menyebutnya dayah,” ujar Taqiyuddin.

Zawiyah atau zawaya adalah istilah yang digunakan orang-orang Maroko atau barat dunia Islam untuk menyebut khanqah. Istilah khanqah yang berarti rumah untuk ibadah ini muncul pada abad ke-4 hijriah dan populer pada zaman dinasti Al-Aiyyubiyah dan Mamalik di Mesir. Pada masa dinasti Al-Utsmaniyyah, khanqah  menjadi takiyyah (takaya). Sebelum itu lagi, disebut dengan ribath. Zawiyah dan ribath sama-sama berfungsi sebagai pusat berkumpul para sufi untuk berjihad di jalan Allah, sekaligus tempat mempelajari dasar-dasar ilmu thariqat dan syariat. Zawiyah (dayah) juga dapat berupa bangunan-bangunan kecil yang berada jauh dari pusat kota, yang memungkinkan para sufi dan murid mereka mengkhususkan diri untuk beribadah. “Sebelum ini, saya pernah melihat satu bangunan zawiyah, kalau tidak salah, di wilayah Kecamatan Seulimum,” kata Taqiyuddin, “tapi yang itu tampaknya tidak sekuno ini.”

Struktur bangunan yang menyerupai mesjid kecil ini diyakini warga Miruk sebagai tempat beribadah Teungku Khalut yang makamnya berada di sisi kanan halaman belakang bangunan tersebut. Teungku Khalut ini tidak diketahui nama aslinya, malah bangunan itu sendiri menurut Azhar Ismail (43), warga Miruk, sudah ada semenjak kakek-kakek mereka membuka tempat ini untuk pemukiman.

Tebal dinding bangunan yang terbuat dari batu bata ini sekitar 34-36 cm. Memiliki ruang dalam seluas 6,36 m ditambah bagian mihrab yang menyembul di sisi barat. Dinding di bagian depan (barat) bangunan tampak masih lebih utuh dan berketinggian sekitar 2 m. Sementara dinding bagian belakangnya (timur) kononnya sudah lama runtuh dan hanya menyisakan susunan bata setinggi lutut laki-laki dewasa. Bagian atapnya tidak pernah ditemukan, tapi beberapa bagian lantai masih terlihat, dan sepertinya terbuat dari terakota. Bangunan yang berada di tepi kanan Krueng Aceh ini menurut warga setempat sudah sangat lama dalam kondisi demikian. “Sejak kami kecil, bangunan itu sudah begitu,” tutur Edi Nur (39), Sekretaris Gampong Miruk, “kami sering main di situ waktu masih kanak-kanak.”

Selain bangunan zawiyah, juga ditemukan bekas sumur atau semacam wadah air di sebelah selatan, berjarak sekitar 3 m lebih. Uniknya, cincin sumur atau tepi wadah yang berdiameter 51 cm itu terbuat dari batu yang telah dilubangi bagian tengahnya sedemikian rupa dan menyisakan ketebalan keliling cincin sekitar 13 cm. Lain itu lagi, ada batu-batu besar yang sepertinya pernah dijadikan alas duduk. Batu-batu itu, kata Edi Nur, dulunya terlihat berurut membentuk lingkaran-lingkaran, dan jumlahnya sangat banyak. “Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Cuma sebagian sisanya saja yang masih ada, dan diletakkan di samping bangunan itu.”

Dari bekas-bekas yang masih tersisa itu, peneliti sejarah kebudayaan Islam Aceh, Taqiyuddin Muhammad, mencoba menyimpulkan bahwa bangunan itu memang memiliki nilai-nilai sejarah yang penting, terutama menyangkut masa lampau tasawuf di Aceh. “Dari keletakannya yang berada di daratan delta Krueng Aceh atau yang bisa kita sebut dengan kawasan Meukuta Alam, dan bersebelahan dengan Gampong Pango Raya, Banda Aceh, yang merupakan salah satu pusat pemerintahan Islam di Aceh pada abad ke-16 M, maka saya memperkirakan bahwa bangunan ini berasosiasi dengan berbagai kompleks situs pemakaman dari abad ke-16, salah satunya kompleks makam Po Teumeurhom di mana Sultan Syamsu Syah bin Munawwar Syah dan Malik Ibrahim dikuburkan. Tapi bagaimanapun, bangunan zawiyah dan berbagai artefak serta ekofak yang ditemukan di Miruk ini merupakan salah satu bukti perjalanan sejarah tasawuf Islam di Aceh.”

Edi Nur berharap kepedulian dan perhatian Pemerintah untuk melestarikan bangunan bersejarah di gampongnya itu. “Selama ini, masyarakat Miruk sudah berusaha semampu mungkin untuk menjaganya karena yakin bangunan itu punya nilai besar bagi sejarah Aceh. Kami berharap Pemerintah dapat mendaftarkannya sebagai salah satu cagar budaya Islami, yang selama ini memang sering dikunjungi,” harap Edi. (Mizuar Mahdi)